. Senyum Anak Indonesia Tanggung Jawab Kita Bersama - Classic Editors

Senyum Anak Indonesia Tanggung Jawab Kita Bersama


Tahun demi tahun, seolah seperti sebuah kabar rutin yang sebenarnya tak pernah kita harapkan, kita selalu mendengar banyak anak di Indonesia yang harus rela direnggut kebahagiannya dengan paksa, yang harus rela menyerahkan akhir hidupnya pada tangan-tangan orang yang tak bertanggung jawab dan tak memiliki kasih pada mereka. 

Sebut saja Engeline, gadis cilik asal Bali yang jenazahnya ditemukan di dalam pekarangan rumahnya sendiri, kabar kematian Engeline menjadi isu nasional, hingga menjadi sebuah kehilangan yang menyayat hati semua warga Indonesia. Belum sempat air mata ibu pertiwi kering menangisi kepergian Engeline, datang lagi kabar ditemukannya jenazah seorang gadis cilik yang ditemukan dalam kardus di daerah Jakarta. Lalu, sampai kapan kabar-kabar seperti ini akan terus datang? Apakah kita rela membiarkan senyum anak Indonesia direnggut secara paksa?

Setiap tahun angka kekerasan terhadap anak tidak pernah menurun secara signifikan, bahkan pada tahun 2013 saja, disebut sebagai Tahun Darurat Kekerasan Anak dengan jumlah kasus sebanyak 2792 kasus yang tercatat oleh Komnas Perlindungan Anak.

Data tersebut hanyalah data yang tercatat saja, masih banyak anak-anak di Indonesia yang kehilangan hak-haknya namun tak bisa mengadukan apa yang dialaminya. Kekerasan fisik, kekerasan seksual, juga perampasan hak-hak anak secara paksa.

Sebenarnya tak banyak hal yang dituntut oleh anak, mereka hanya ingin dianggap sebagai manusia seutuhnya, bukan manusia ‘kelas dua’ yang bisa diperlakukan seenaknya hingga bisa dirampas hak-hak hidupnya. 

Masa Kanak-kanak (Foto: Joseph Samson/Pixabay)
Kita sebagai manusia dewasa, seringkali memandang rendah pada sosok anak, padahal mereka memiliki hak-hak yang harus dilindungi serta diperjuangankan agar hak-hak tersebut tidak hilang.
Beberapa hak anak yang tak boleh hilang adalah hak untuk bermain, hak untuk memperoleh pendidikan, juga hak untuk mengeluarkan pendapat. Namun, apakah hak-hak tersebut sudah diperoleh anak-anak Indonesia? Jawabannya tentu saja, belum!

Masih banyak anak-anak di Indonesia yang harus bekerja sehingga kehilangan haknya untuk bermain dan memperoleh pendidikan. Masih banyak juga anak-anak di Indonesia yang harus menikah dini karena keputusan orang tua sehingga mereka kehilangan haknya. Apakah selama ini mereka memperoleh haknya untuk mengeluarkan pendapat dan mengatakan jika bukan menikah dan bekerja di usia dini yang mereka inginkan? Mereka tidak memperoleh itu, mereka hanya bisa diam dan bungkam. Menganggap semua yang terjadi memanglah garis nasib di tangan masing-masing.

Selama ini dalam diri kita sudah terbentuk mindset yang menganggap bahwa anak bukanlah bagian penting bagi negara ini, hanya karena mereka belum memiliki kartu tanda penduduk juga belum memiliki hak untuk memilih presiden dan wakil rakyat.

Tahun 2015, saya mengadakan penelitian tentang program perlindungan anak di daerah saya, Grobogan-Jawa Tengah. Banyak data serta fakta mencengangkan yang saya dapatkan ketika melakukan penelitian ini.

Saya mendapati fakta dari sebuah LSM Plan, sebuah LSM yang konsen terhadap Perlindungan Anak di Grobogan menyebutkan jika ada tidak kurang dari 100 anak urban ke Jakarta menggunakan armada bus untuk mencari kerja. Mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga, baby sitter, dan sebagian besar lainnya masih mencari pekerjaan.

Selain fakta tentang tingginya pekerja anak, saya juga mendapatkan fakta bahwa pernikahan usia anak di Grobogan masih sangat tinggi. Pada tahun 2012 ada 3142 kasus pernikahan anak di Grobogan, dan angka ini meningkat pesat pada tahun 2013 dengan 4072 kasus pernikahan anak.

Menurut data yang saya dapatkan dari Badan Pusat Statistik, umur perkawinan pertama <17 tahun di Kabupaten Grobogan menjadi yang tertinggi dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain di Jawa tengah. Ini merupakan fakta yang miris dan ironi di tengah gencarnya program perlindungan anak di Indonesia.

Sesungguhnya perlindungan anak bukan hanya sekadar dari kekerasan fisik semata, tapi juga perlindungan anak dari perampasan hak-haknya. Apabila seorang anak bekerja atau melakukan pernikahan di usia dini, maka bisa diketahui akibatnya, mereka akan terenggut hak-haknya untuk bermain serta mendapatkan pendidikan.

Masyarakat di Grobogan memang masih belum memiliki kesadaran mengenai pentingnya perlindungan anak, masyarakat Grobogan masih berpikiran bahwa anak perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena akhirnya akan di dapur juga. Begitu pula dengan anak laki-laki yang dituntut untuk bekerja sedini mungkin.

Setelah melakukan penelitian selama satu tahun saya menyimpulkan bahwa terganjalnya program perlindungan anak adalah karena pola pikir masyarakat yang masih tidak tahu serta tidak peduli dengan adanya hak-hak anak.

Oleh karena itu, saya ingin mengubah pola pikir masyarakat di daerah Grobogan mengenai pentingnya memenuhi hak-hak anak. Hal ini memanglah tidak mudah, tapi saya yakin dengan perkembangan teknologi dan media sosial yang ada, saya bisa membagikan ide dan pemikiran saya ini dengan lebih mudah serta lebih luas. saya berharap bisa lebih banyak mengajak orang di daerah Grobogan untuk lebih sadar akan kondisi anak di Grobogan saat ini. Sehingga harapan saya, saya bisa mengubah cara pandang masyarakat Kabupaten Grobogan untuk lebih mencintai anak dan memenuhi hak-hak anak yang selama ini sudah terabaikan, karena bagaimanapun anak-anak sekarang adalah pemimpin bangsa di masa depan. Senyum anak Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, namun tanggung jawab kita bersama. (*)
              
logo
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak.
  • Facebook
  • WhatsApp
  • Instagram
  • Subscribe Our Newsletter

    Related Posts

    Buka Komentar
    Tutup Komentar

    26 Komentar untuk "Senyum Anak Indonesia Tanggung Jawab Kita Bersama"

    1. Kalo menurut saya usia itu bukan penentuan kedewasaan seseorang. Boleh saja usia dini menikah asal sudah matang semua baik secara mental maupun finansial dll. Zaman sekarang bisa dicontohin dengan pernikahan Alvin putra alm. Ustaz Arifin Ilham. Di zaman kejayaan Islam tidak sedikit malah usia muda (yg menurut orang sekarang terlalu muda untuk menikah) malah bisa menaklukkan sebuah negara, menduduki jabatan penting di kenegaraan, menjadi ahli ini dan itu. Karena output pendidikan Islam adalah membentuk karakter takwa sedari anak2 tanpa mengurangi hak2 anak..

      BalasHapus
    2. hak anak itu memang harus dipenuhi. Apa lagi hak untuk disayang, itu akan mempengaruhi masa depan mereka. Penting banget sih menurutku :)

      BalasHapus
    3. Memprihatinkan sekali di jaman ini masih ada saja yang melakukan kekerasan terhadap anak kecil. Saya liat anak digigit nyamuk saja kesel banget.

      BalasHapus
    4. Cukup ironis memang, mungkin ini juga karena kelemahan quality control dari orang tua. Dan utk meminimalisir urban utk bekerja diluar kota, hrusnya ada perluasan lapangan pekerjaan oleh pemerintah daerah setempat

      BalasHapus
    5. Miris ya lihat anak-anak sudah harus berjuang bertahan hidup. Padahal diusia mereka masih harus belajar. Tapi kebanyakan anak-anak yang seperti itu dipengaruhi oleh faktor ekonomi.

      BalasHapus
    6. wallohul mustaan, nangis aku kak kalau baca berita tentang kejahatan ke anak kecil, begitu tega yang melakukannya, semoga hal ini bisa semakin di tekan angkanya dan hilang, aamiin

      BalasHapus
    7. Wah, semoga dimudahkan campaign nya ya mbak. Kekerasan anak dan ekploitasi memang kadang kurang diperhatikan oleh masyarakat sekitar. Setuju sekali, jd tugas kita semua

      BalasHapus
    8. Jadi inget sama anak2 yang diajak Bapaknya mungut sampah. Bukan karena pengin merampas haknya mereka sih, tapi memang si Bapak gapunya pilihan lain. Kalau ngga diajak mereka ngga ada temen di rumah. Ibunya harus kerja dan gabole bawa anak. Kalo ngga kerja, mereka jg gabisa makan dan sewa kontrakan rumah. Aduh serba pelik memang. Sedih

      BalasHapus
    9. Miris Memang Sekarang Mbak. Hak dan Kebebasan Anak dalam pendidikan penting

      BalasHapus
    10. Ya Allah bener banget, anak-anak aadalah generasi amsa depan. Teringat berita kemarin ada 2 anak yang berkelahi (satu yang terus-terusan memukul, satunya pasrah) justru yang rekam katanya bapaknya yang mukul itu. Miris.

      BalasHapus
    11. Masyarakat Grobogan masih berpikiran bahwa anak perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena akhirnya akan di dapur juga.

      Masih sama di daerahku juga kak.

      BalasHapus
    12. Anak-anak ingin tumbuh sesuai dengan dunianya. Bisa bermain dengan teman-teman dan apa yang mereka inginkan bisa di hargai.

      BalasHapus
    13. I appreciate your will kak. Semoga Allah mudahkan. Masalahnya memang jadi kompleks begitu nyangkut anak tetangga atau anak orang lain. Pola pengasuhan yang terlalu let it flow atau kontaminasi tv dan gadget yg berlebihan memnuat perkembangan anak terganggu loh. Ttp semangat ya

      BalasHapus
    14. Kisah Engeline itu benar-benar membekas di hati saya. Saya menyaksikan sendiri Tim Forensik dan RSUP Sanglah menggotong mayatnya keluar. Waktu itu saya masih pegang liputan wilayah Bali. Nangis saya melihatnya, apalagi mewawancara ibu kandungnya yang benar-benar miskin, yg terpaksa memercayakan anaknya pada ibu angkatnya yang dia kira orang baik. Bagaimana pun jangan putus berharap bahwa ada masa depan cerah untuk anak-anak Indonesia.

      BalasHapus
    15. Ada beberapa hal yang justru lepas dari pengamatan.

      Ada anak-anak yang justru ikut bekerja dengan orangtua bkan karena orangtua mereka ingin merampas hak mereka.

      Tapi terlebih karena tidak ada pilihan lain dalam hal ini. Usia sekolah di sekolah negeri malah banyak sekali tuntutan yang aneh-aneh dan mereka tak bisa penuhi.

      Di daerah saya, tak ada pilihan lain mendominasi banyak anak harus bekerja diusia mereka yang masih dini.

      BalasHapus
    16. wah bener nih harus diberikan penyuluhan kepada masyarakat grobongan. jangan sampai menyesal anak-anaknya perempuannya enggak sekolah. padahal itu wajib loh, bagaimana bisa melahirkan bangsa maju jika ibunya saja tidak berpendidikan, padahal mendidik seorang manusia kan engak mudah. semoga cita-cita mulianya tercapai.

      BalasHapus
    17. Anak2 malang itu tdk.minta untuk dilahirkan jadi seharusnya yg diamanatkan anak yg hrs mampu merawat dan membesarkan dng cara apapun. Spti kasus anak2 malang tsb karena ketidakberdayaan ortu dlm merawat si anak sehingga ada yg rela menyerahkan pd orang lain..ada yg teledor dlm pengawasan..dunia ini memang tdk ramah untuk anak2...miris ya..

      BalasHapus
    18. Bagus banget kalo ada penyuluhan kak. Karena anak-anak ini adalah penerus kepemimpinannya negara kita kedepannya. Anak-anak adalah bibitnya. Jadi senyum mereka adalah tanggung jawab kita bersama 💞

      BalasHapus
    19. Anak-anak ini harus dipenuhi fitrahnya agar tidak terjadi penyimpangan kelak. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Oleh karenanya memang sudah menjadi tanggungjawab kita bersama memenuhi hak hak mereka.

      BalasHapus
    20. Di tempat Yuni di madura sana juga nggak sedikit anak belum cukup usianya menikah. Belum 17 tahun udah menikah.

      Yah, menurut warga di sana sih lumrah begitu. Tapi ya gitu, miris.

      BalasHapus
    21. Harus sering diadakan edukasi,sosialisi di grobogan kak, dan ketrampilan biar mereka tahu bahwa berharganya Anak-anak untuk masa depan dirinya, keluarganya, maupun lingkungannya

      BalasHapus
    22. Betul gan, anak juga memiliki hak yang harus diperhatikan. Karena mereka adalah generasi pengubah bangsa kita menuju kehidupan yang lebih baik.

      BalasHapus
    23. anak adalah tanggung jawab orang tua. bagi para orang tua menjadi kewajiban untuk merawat dan melindunginya. bahkan tidak meninggalkan mereka dalam keadaan lemah

      BalasHapus
    24. Semoga niat baiknya di ijabah gusti Allah ya kak. Soalnya setiap kita akan kembalikembali pada tanah dan mereka generasi kita. Jika masa muda dan haknya baik. Insya Allah baik kedepannya.

      BalasHapus
    25. Bulikku tinggal di Purwodadi. Ini dekat dengan Grobogan kan, ya? Kalau yang aku tahu ya, banyak orangtua yang menganggap anak selayaknya barang dagangan. Apabila ada yang 'membeli' dengan nilai tinggi, maka anak akan diserahkan. Nggak peduli usia berapa, yang penting 'mas kawinnya' banyak.

      BalasHapus
    26. Tujuan mas sama banget dengan saya. Saya juga sedang berusaha untuk mengubah pola pikir orang tua bahwa pendidikan itu penting baik perempuan ataupun laki-laki, beberapa teman angkatan saya dari sd smpai smp ada yg putus sekolah hingga nikah di usia muda

      BalasHapus

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2